digital mourning
bagaimana cara manusia modern berduka dan mengenang kematian di media sosial
Pernahkah kita sedang asyik menggulir linimasa Instagram atau Facebook, lalu tiba-tiba jantung kita berdegup lebih cepat? Kita melihat foto seorang sahabat atau kerabat yang sudah tiada. Akunnya ditandai oleh orang lain. Atau mungkin, muncul notifikasi bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Rasanya campur aduk. Ada rindu, kaget, dan sedikit nuansa surealis. Kita menatap layar kaca, melihat senyumnya yang membeku dalam piksel. Di kolom komentar, orang-orang menulis pesan panjang seolah-olah dia sedang membacanya dari dimensi lain. Dulu, kita berziarah ke makam yang berselimut tanah. Sekarang, kita berziarah ke akun media sosial. Fenomena ini nyata dan kita menyebutnya sebagai digital mourning atau duka cita digital. Dan mari kita akui bersama, hal ini telah mengubah total cara manusia modern menghadapi kehilangan.
Untuk memahami seberapa radikal perubahan ini, mari kita mundur sejenak ke masa lalu. Sepanjang sejarah peradaban, manusia selalu butuh ruang fisik untuk memproses duka. Orang Mesir Kuno membangun piramida megah. Masyarakat era Victoria di Inggris punya tradisi mengenakan pakaian hitam berbulan-bulan dan menyimpan sehelai rambut mendiang di dalam liontin. Semuanya bersifat fisik dan spasial. Ada tempat yang bisa dikunjungi, ada benda yang bisa disentuh. Waktu dan jarak membatasi kesedihan kita. Kita menangis di area pemakaman, lalu pulang ke rumah untuk melanjutkan hidup. Namun sekarang, batas itu lebur. Makam orang yang kita sayangi kini ada di dalam saku celana kita, menyala dalam bentuk smartphone. Kapan pun kita merasa hancur, kita bisa membuka arsip story highlight mereka. Mendengar kembali suaranya. Melihat kembali candaannya. Tapi, ini memunculkan sebuah pertanyaan besar: apakah kedekatan digital ini membuat kita lebih mudah merelakan, atau justru membuat kita terjebak dalam labirin kesedihan tanpa ujung?
Mari kita perhatikan perilaku kita sendiri atau teman-teman di sekitar kita. Ketika seseorang berpulang, linimasanya sering kali berubah menjadi semacam tugu peringatan interaktif. Kita meninggalkan komentar di postingan terakhirnya. Kita mengirim pesan Direct Message (DM) menceritakan keluh kesah hari ini, meski kita tahu persis tidak akan ada centang biru atau balasan yang datang. Kenapa kita melakukan itu? Mengapa otak kita yang rasional ini justru mendorong jari-jari kita mengetik pesan kepada seseorang yang secara biologis sudah tiada? Sebagian orang mungkin menganggap kebiasaan ini tidak sehat. Muncul stigma bahwa orang yang terus-menerus menengok akun media sosial mendiang adalah orang yang gagal melangkah maju. Bahwa mereka sedang menyangkal realita. Kita pun mungkin sempat cemas, jangan-jangan algoritma teknologi modern ini merusak proses alami otak kita dalam menyembuhkan luka? Jawabannya ternyata jauh lebih mengejutkan dari yang kita duga, dan sains memegang kunci rahasianya.
Di sinilah psikologi modern dan neurosains masuk membawa pencerahan yang indah. Selama puluhan tahun, dunia psikologi didominasi oleh gagasan Sigmund Freud tentang grief work atau kerja duka. Teorinya kaku: untuk sembuh, kita harus memutus ikatan emosional dengan yang meninggal dan melupakannya. Titik. Namun, para ilmuwan era kini menemukan bahwa biologi manusia tidak bekerja seperti itu. Saat ini, sains berpegang pada konsep Continuing Bonds Theory (Teori Ikatan Berkelanjutan). Teori ini membuktikan bukti kuat bahwa berduka bukanlah proses melupakan, melainkan proses menemukan cara baru untuk tetap terhubung. Secara neurologis, otak manusia pada dasarnya adalah mesin prediksi (predictive coding). Ketika seseorang yang kita cintai meninggal, otak kita mengalami kebingungan kognitif tingkat tinggi karena ia sudah terbiasa memprediksi kehadiran orang tersebut. Nah, arsip digital di media sosial berfungsi sebagai jembatan transisi bagi otak kita yang sedang kacau ini. Mengirim DM ke akun mendiang bukanlah bentuk halusinasi. Psikolog menyebutnya sebagai pembentukan ikatan parasosial yang baru. Jejak digital mereka bertindak sebagai external hard drive bagi memori kita yang rentan pudar. Menulis komentar di profil mereka adalah versi modern dari berbicara di depan batu nisan. Hebatnya lagi, di media sosial kita berduka secara komunal. Kita melihat orang lain juga ikut rindu, dan secara psikologis, validasi sosial itu sangat ampuh menurunkan hormon stres di otak kita.
Pada akhirnya, teman-teman, teknologi mungkin telah mengubah mediumnya, tetapi esensi kemanusiaan kita tetap sama persis. Kita adalah spesies yang bertahan hidup dengan cara bercerita, dan kita menolak membiarkan kematian mengakhiri cerita orang yang kita cintai. Digital mourning bukanlah sebuah kecacatan psikologis manusia modern. Ini adalah evolusi murni dari empati dan cinta kita. Tentu, kita tetap harus sadar diri agar tidak tenggelam sepenuhnya dalam dunia maya hingga lupa memijak bumi dan berinteraksi dengan yang masih hidup. Namun, tidak ada yang salah dengan menyimpan satu ruang kecil di internet untuk merawat ingatan. Jadi, lain kali jika kita melihat akun seorang kawan yang telah tiada mampir di linimasa, tak perlu buru-buru mengalihkan pandangan karena takut sedih. Tersenyumlah pada layar itu. Tinggalkan satu memori indah di kolom komentarnya. Ketiklah pesan rindu lewat DM-nya jika itu bisa melegakan dada. Kematian mungkin menghentikan detak jantung mereka, tetapi selama kita masih bersedia mengingat, mereka tidak pernah benar-benar pergi.